Kamis, 13 November 2008


Rabu, 12 November 2008 | 20:59 WIB

BANGALORE, RABU - Ambisi India untuk menaklukkan ruang angkasa semakin membara setelah peluncuran wahana ke Bulan pertamanya sukses. Setelah meluncurkan Chandrayaan-1, kini tim dari Organisasi Riset Antariksa India (ISRO) sedang mengembangkan sebuah wahana untuk mendekati Matahari.

"Itu sebuah satelit mini. Desain pesawat itu segera rampung," kata Ketua ISRO, Madhavan Nair kepada kantor berita India, PTI. Para ilmuwan ISRO sedang dalam tahap mendesain pesawat yang diberi nama Aditya untuk mempelajari wilayah di bagian terluar Matahari yang disebut korona.

Wahana tersebut akan digunakan untuk mengamati tipe emisi yang terjadi di Matahari dan bagaimana hal itu berinteraksi, misalnya dengan ionosfir dan atmosfir. Deputi Direktur Program, kantor Sains Antariksa ISRO, Dr. Jayati Datta mengatakan Aditya adalah wahana ruang angkasa pertama yang mempelajari korona secara menyeluruh.

"Aditya akan menjadi usaha pertama oleh komunitas ilmuwan India untuk menguak misteri berkaitan dengan pemanasan korona, pelepasan massa korona dan proses cuaca ruang angkasa dan penelitian ini akan memberikan informasi penting tentang kondisi kegiatan surya," katanya.

Cicak Jenis Baru Ditemukan


Selasa, 11 November 2008 | 10:31 WIB

PARIS, SELASA – Para peneliti Perancis telah berhasil menetaskan cicak jenis baru dari sebuah telur yang diambil dari suatu pulau di Pasifik Selatan. Telur itu dibawa sejauh 19.200 kilometer ke Paris dan menetas di sana.

Museum Sejarah Alam Nasional perancis mengatakan ini adalah kali pertama sebuah spesies kadal baru digolongkan berdasar satu individu yang ditetaskan dari telur.

Hewan yang dinamai Lepidodactylus buleli itu tinggal di puncak-puncak pohon yang tumbuh di sepanjang pesisir Espiritu Santo, salah satu pulau terbesar di Vanuatu, sebelah timur Australia. Ekspedisi 2006 ke Espiritu Santo untuk mempelajari ekosistem kanopi hutan berbuah dengan temuan cicak sepanjang 7,5 cm itu.

Ivan Ineich, seorang ahli reptil, mengatakan ia pertama kali melihat cicak itu saat seorang pemanjat pohon tidak sengaja menebasnya menjadi dua bagian. "Saya bertanya pada diri saya sendiri, hewan ini kelihatannya aneh. Namun saat itu saya tidak bisa memastikan apakah hewan ini adalah spesies baru," katanya.

Para pemanjat kemudian mengambil telur-telur cicak yang ada di atas pohon. Mereka mendapati sembilan telur yang kemudian dibungkus dalam tisu dan dibawa ke Perancis. Di sana telur-telur itu ditetaskan. Namun delapan di antaranya mati karena suhu dalam terrarium terlalu tinggi, sedangkan satu ekor hidup.